Kamis, 04 Juni 2015

PROGRAM KESPRO


Program-program Kesehatan Reproduksi Remaja | K4Health
Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, sering kali berakar dari kurangnya informasi, pemahaman dan kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan hal ini, mulai dari pemahaman mengenai perlunya pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, pemahaman mengenai proses-proses reproduksi serta dampak dari perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penularan penyakit menular seksual termasuk HIV.

Topik Program Kesehatan Reproduksi Remaja merupakan topik yang perlu diketahui oleh masyarakat khususnya para remaja agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Dalam hal ini Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.

Informasi Program Kesehatan Remaja ini juga akan memberikan pelayanan informasi tentang Kesehatan Remaja yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang diselenggarakan oleh lembaga non pemerintah serta implementasinya di kalangan masyarakat khususnya para remaja

ANAATOMI PANGGUL

ANATOMI PANGGUL
ANATOMI PANGGUL

Panggul atau pelvis terdiri atas 2 bagian  yaitu :

Ø  Bagian keras yang dibentuk oleh tulang

Ø  Bagian lunak yang dibentuk oleh otot-otot dan ligamenta

Bagian keras pelvis yang dibentuk oleh tulang ada 2 bagian yaitu :

§  Pelvis mayor

          Mendukung isi perut seperti usus, hati, ginjal, pankreas dll

§  Pelvis minor

           Tempat organ-organ genetalia internal seperti uterus, ovarium, vagina, kandung kemih, dll

TULANG-TULANG YANG MENYUSUN PANGGUL


Tulang panggul terdiri dari 4 buah tulang yaitu :

a)      2 buah tulang pangkal aha    ( os coxae )

b)      1 buah tulang kelangkang     (os sacrum)

c)      1 buah tulang tungging          (os coccygis)

A.     TULANG PANGKAL PAHA (OS COXAE)

Tulang coxae terdiri atas 3 buah tulang yang berhubungan satu sama lain.

Batas os coxae dari articulatio sakroiliaka sampai pertengahan pubis.

Ketiga tulang itu ialah :

Tulang usus           ( os illium)

Tulang duduk        ( os ischium)

Tulang kemaluan  ( os pubis )

v  TULANG USUS ( OS ILLIUM )

Os illium terletak dari articulatio sakroilliaka sampai pinggir atas acetabulum.

Batas atasnya merupakan pinggir tulang yang tebal yang disebut CRISTA ILLIACA

Ujung depan maupun belakang dari crista illiaka menonjol terdiri atas 4 spina yaitu :

§  Spina illiaka anterior superior           (SIAS)

§  Spina illiaka anterior inferior            (SIAI)

§  Spina illiaka posterior superior         (SIPS)

§  Spina illiaka posterior inferior           (SIPI)

Di bawah spina illiaka posterior inferior terdapat tekik yang disebut INCISURA ISCHIADIKA MAYOR

v  TULANG DUDUK (OS ISCHIUM)

Os ischium terletak dari foramen obsturatorium sampai pada pinggir atas acetabulum.

Tonjolan yang ada pada ischium yaitu SPINA ISCHIADICA

Tulang yang tebal yang menyangga berat badan pada saat duduk adalah TUBER ISCHADICUM

Bagian yang cekung besar sebelah atas disebut inchisura isciadica mayor.

Bagian yang cekung kecil sebelah bawah disebut inchisura ischiadica minor.

v  TULANG KEMALUAN KEMALUAN ( OS PUBIS )

Tulang yang membatasi sebuah lubang dalam tulang panggul dinamakan FORAMEN OBTURATORIUM

Bagian atas yang menonjol pada os pubis dinamakan RAMUS SUPERIOR, cekungannya dinamakan LINEA INOMINATA atau LINEA TERMINALIS.

Pertemuan kedua ramus superior dinamakan tepi atas simfisis.

Pada bagian bawahnya dinamakan RAMUS INFERIOR, pertemuan antara ramus inferior membentuk tepi bawah simfisis.

Pada ramus inferior membentuk sudut yang disebut ARCUS PUBIS yang sudutnya tidak boleh kurang dari 90 derajat.

B.      TULANG KELANGKANG ( OS SACRUM )

Tulang kelangkang berbentuk segitiga melebar di atas dan meruncing ke bawah.

Batas-batas dari os sacrum yaitu :

Ø  Articulatio sakro illiaca ( batas kanan dan kiri )

Ø  Prosesus lumbal ke 5 ( batas belakang atas )

Ø  Coccygis ( batas bawah )

Ø  Promontorium ( batas depan atas )

Pada pertengahan basis terdapat titik menonjol digunakan sebagai petunjuk saat melakukan pengukuran panggul dalam dinamakan PROMONTORIUM.

Pada bagian anterior memanjng sampai illium dinamakan sayap sacrum.

Lubang yang terdapat pada bagian depan dinamakan FORAMINA SACRALIA ANTERIORA.

Lubang yang terdapat pada bagian belakang dinamakan FORAMINA SACRALIA POSTERIORA.

Pada vertebra terdapat bagian yang berduri yang dinamakan KRISTA SAKRALIA.

Pada bagian samping tulang kelangkang berhubungan dengan kedua tulang pangkal paha dengan perantara articulatio sacroilliaca dan ke bawah dengan tulang tungging.

C.      TULANG TUNGGING ( OS COCCYGIS )

Berbentuk segitiga dan terdiri atas 3-5 ruas bersatu.

Pada persalinan ujung tulang tungging dapat ditolak sedikit ke belakang, hingga ukuran pintu bawah panggul bertambah besar.

Coccygis bersifat lentur, kelenturannya mempengaruhi lebar dari ukuran panggul dalam.

JARINGAN  LUNAK PANGGUL

Bagian lunak panggul terdiri dari otot-otot dan ligamenta yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan yang menutupi panggul sebelah bawah, yang menutupi panggul dari bawah membentuk dasar panggul dan disebut DIAFRAGMA PELVIS.

Diafragma pelvis dari dalam ke luar terdiri atas :

a.      Pars muscularis yaitu m.levator ani

b.      Pars membranacea yaitu diafragma urogenitale

a.      Musculus levator ani

Terdiri atas 3 bagian, dari depan ke belakang dapat dikenal :

·         Musc. Pubo coccygeus dari os pubis ke septum anococcygeus.

·         Musc. Ilio coccygeus dari arcus tendineus m.levator ani ke os coccygis dan septum anococcygeus.

·         Musc. (ischio) coccygeus dari spina ischiadica ke pinggir sacrum dan coccygis.

b.      Antara m.pubo coccygeus kiri kanan terdapat celah berbentuk segitiga yang disebut hiatus urogenitalis yang tertutup oleh sekat yang disebut diafragma urogenitale.

DAERAH PERINIUM

Merupakan bagian permukaan dari pintu bawah panggul, terdiri dari 2 bagian yaitu :

Ø  Regio analis di sebelah belakang

Terdapat m.sphincter ani externus yang mengelilingi anus

Ø  Regio urogenitalis

Terdapat :

o   M. Bulbo cavenosus, yang mengelilingi vulva

o   M. Ischio cavernosus

o   M. Transversus perinei superficialis

BENTUK-BENTUK PANGGUL

Panggul gynecoid
Panggul android
Panggul anthropoid
Panggul platypeloid
PANGGUL GYNECOID

Panggul paling baik untuk perempuan. Bentuk pintu atas panggul hampir bulat. Diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa bulat. Jenis ini ditemukan pada 45% wanita.
PANGGUL ANDROID

Bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Umumnya pria mempunyai jenis seperti ini. Panjang diameter transversa dekat dengan sakrum. Pada wanita ditemukan 15%.
PANGGUL ANTHROPOID

PANGGUL PLATYPELOID

Sebenarnya jenis ini adalah jenis ginekoid yang menyempit pada arah muka belakang. Ukuran melintang jauh lebih besar daripada ukuran muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 5% perempuan.


SUMBU PANGGUL

Sumbu panggul adalah garis yang menghubungkan pusat-pusat dari beberapa bidang di dalam panggul berupa garis lurus di bagian atas sampai suatu titik sedikit di atas spina ischiadika dan kemudian melengkung ke depan di daerah PBP.
Sumbu jalan lahir sedikit berbeda dari sumbu anatomis. Bagian atas dari jalan lahir merupakan silinder yang lurus tapi ujung bawahnya melengkung ke depan, ditentukan oleh perubahan dasar panggul karena desakan bagian depan anak.

INCLINATIO PELVIS

BIDANG-BIDANG PANGGUL

v PINTU ATAS PANGGUL

Pintu atas panggul adalah batas atas dari panggul kecil.

Bentuknya bulatan oval dengan panjang kesamping dan dibatasi oleh :

      Promontorium
      Sayap sacrum
      Linea terminalis
      Ramus superior
      Pinggir atas symphysis
Biasanya 3 ukuran ditentukan dari PAP

1.      Ukuran muka belakang (diameter antero posterior, conjugata vera )

2.      Ukuran melintang (diameter tranversal )

3.      Kedua ukuran serong ( diameter obliqua )

1)      Ukuran muka belakang

Dari promontorium ke pinggir atas symphysis, dikenal dengan nama conjugata vera dengan ukuran 11 cm.

Pada wanita hidup conjugata vera tak dapat diukur dengan langsung, tapi dapat diperhitungkan dari conjugata diagonalis (dari promontorium ke pinggir bawah symphysis)

2)      Ukuran melintang

Adalah ukuran terbesar antara linea terminalis kanan dan kiri dengan jarak kurang lebih 13,5 cm

3)      Ukuran serong

Dari articulatio sacroilliaka ke tuberpubikum dari belahan panggul yang bertentangan, dengan jarak kurang lebih 13 cm.

v BIDANG LUAS PANGGUL

Yaitu bidang dengan ukuran-ukuran terbesar.

Bidang luas panggul terbentang antara pertengahan symphysis, pertengahan acetabulum dan pertemuan antara ruas sacral II dan III

Ukuran muka belakang  12,75 cm, dan ukuran melintang 12,5 cm.

Bidang ini tidak menimbulkan kesukaran dalam persalinan.

v  BIDANG SEMPIT PANGGUL

Yaitu bidang dengan ukuran-ukuran terkecil.

Bidang sempit panggul terdapat setinggi pinggir bawah symphysis, kedua spina ischiadicae dan memotong sacrum krang lebih 1-2 cm di atas ujung sacrum.

Bidang ini paling sulit penilaiannya karena ukurannya paling kecil, dan sulit mengukurnya.

Kesempitan pintu bawah panggul biasanya disertai kesempitan bidang sempit panggul.

v  PINTU BAWAH PANGGUL

Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segitiga dengan dasar yang sama, ialah garis yang menghubungkan kedua tuber ischiadicum kiri dan kanan.

Puncak dari segitiga yang belakang adalah ujung os sacrum sedangkan segitiga depan dibatasi oleh arcus pubis.

Pada pintu bawah panggul biasanya ditentukan oleh 3 ukuran yaitu :

1.      Ukuran muka belakang

Dari pinggir bawah symphysis ke ujung sacrum (11,5 cm)

2.      Ukuran melintang

Ukuran antara tuber ischiadicum kiri dan kanan sebelah dalam (10,5cm)

3.      Diameter sagitalis posterior

Dari ujung sacrum ke pertengahan ukuran melintang (7,5cm)

v  BIDANG HODGE

Bidang hodge untuk menentukan berapa jauh bagian depan anak itu turun ke dalam rongga panggul.

Bidang hodge antara lain :

§  Hodge I

Ialah setinggi pintu atas panggul

§  Hodge II

Sejajar dengan hodge I setinggi tepi bawah symphisis

§  Hodge III

Sejajar dengan hodge I setinggi spina ischiadica

§  Hodge IV

Sejajar dengan hodge I setinggi ujung os coccygis


UKURAN-UKURAN PANGGUL

v  UKURAN DALAM PANGGUL

·         Conjugata vera yaitu perbatasan dari tepi atas symphysis sampai ke promontorium, tidak dapat diukur secara klinis ( kurang lebih 11 cm )

·         Conjugata diagonalis yaitu tepi bawah symphysis sampai ke promontorium (kurang lebih 12-13 cm)

Cara mengukur conjugata diagonalis

ü  Dengan 2 jari telunjuk dan jari tengah, melalui konkavitas dari sacrum, jari tengah digerakkan ke atas sampai dapat meraba promontorium.

ü  Sisi radial dari jari telunjuk ditempelkan pada pinggir bawah symphysis dan tempat ini ditandai dengan kuku jari telunjuk tangan kiri.

·         Diameter oblique (menyilang) yaitu articulatio saccroilliaka sampai tuber pubicum (12,5 cm)

·         Diameter tranversal adalah jarak antara linea terminalis kiri dan kanan (13,5 cm )

v  UKURAN LUAR PANGGUL

ukuran luar panggul tidak dapat digunakan untuk penilaian apakah persalinan dapat berlangsung secara biasa atau tidak. Walaupun begitu ukuran luar panggul dapat memberi petunjuk akan kemungkinan panggul sempit.

Ukuran-ukuran luar panggul yaitu :

·         Distania spinarum adalah jarak antara SIAS kiri dan kanan (26-28 cm)

·         Distania cristarum adalah jarak antara crista iliaca kiri dan kanan (28-30 cm)

·         Diastania boudeloque adalah jarak antara tepi atas symphysis sampai ruas lumbal ke 5 (18-20 cm)

·         Lingkar panggul adalah dari tepi atas symphisys ke pertengahan SIAS lalu ke proxesus lumbal ke 5 kembali ke pertengahan SIAS dan kembali di tepi atas shymphisis (80-100 cm)

DAFTAR PUSTAKA

1.      OBSTETRI FISIOLOGI Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.

2.      Pearce, Evelyn C. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. 2009. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

4.      Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan. 2008. Yayasan Bina Puastaka Prawirohardjo : Jakarta.

5.      Hand out Anatomi Fisiologi Organ Reproduksi Wanita.

6.      Catatan materi dari Ibu Gita.

Http://aribubun.Blogspot.com
4juni2015 pukul 22.22

RESEP OPOR AYAM MASAK KERING

OPOR AYAM MASAK KERING

Opor ayam kering adalah opor ayam yang disajikan berbumbu kental yang melumuri daging ayam. Opor ayam ini tentu akan memberikan sensasi tersendiri. Macam-macam bumbu dan rempah yang digunakan sangat mempengaruhi kekayaan cita rasanya.


Bahan dan bumbu :
1 kg daging ayam, potong-potong
3 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
6 sdm kecap manis
2 batang serai, digeprek
1 bungkus (65 ml) santan kental kara
800 ml santan encer
garam dan penyedap rasa sesuai selera
minyak untuk menumis
Haluskan :
6 butir bawang merah
4 siung bawang putih
2 cm jahe
10 cm lengkuas
1 sdt pala
1 sdt merica
6 butir kemiri
½ sdt ketumbar
1 buah tomat
½ sdt terasi
1 sdt gula merah
CARA MEMBUAT OPOR AYAM MASAK KERING :
Panaskan sedikit minyak, tumis bumbu halus, serai, daun salam dan daun jeruk hingga harum. Masukkan potongan daging ayam lalu aduk hingga kaku dan bumbu tercampur rata.
Tuang santan encer kemudian masak dengan diaduk sesekali sampai ayam lunak serta kuah menyusut, saatnya memasukkan santan kental dan kecap manis. Bubuhi dengan garam dan penyedap rasa sesuai selera, aduk serta masak hingga matang, kental dan tak berkuah lalu angkat dan siap untuk disajikan.

RESEP OPOR AYAM KUAH PUTIH

RESEP OPOR AYAM KUAH PUTIH
Opor ayam enak sederhana berikutnya adalah dengan campuran kentang, wortel dan buncis yang kali ini disajikan dengan kuah berwarna putih.
Bahan dan bumbu :
½ kg daging ayam
3 buah wortel, potong-potong
10 buah buncis, potong-potong
3 buah kentang, potong-potong
2 batang serai, digeprek
3 cm lengkuas, digeprek
1 bungkus (65 ml) santan kara
2 liter air
garam, gula pasir dan merica secukupnya
minyak untuk menumis
Haluskan :
3 cm jahe
4 butir kemiri
6 butir bawang merah
2 siung bawang putih
CARA MEMBUAT OPOR AYAM SAYUR KUAH PUTIH :
Potong-potong daging ayam yang sudah dibersihkan lalu rebus hingga mendidih dan matang.
Panaskan sedikit minyak, tumis bumbu halus, serai dan lengkuas hingga harum dan matang. Angkat lalu masukkan tumisan bumbu ke dalam rebusan ayam, masukkan juga kentang, wortel dan buncis.
Tuang santan serta masukkan garam, gula dan merica secukupnya lalu aduk sesekali agar santan tidak pecah. Masak sampai semua bahan matang dan dagingnya empuk, angkat dan sajikan.

RESEP OPOR AYAM BUMBU KUNING




RESEP OPOR AYAM ENAK SEDERHANA

Opor ayam adalah masakan ayam berkuah kental yang berasal dari santan serta paduan bumbu dan rempah lainnya. Oleh karena itu, bumbu opor ayam menjadi bumbu masakan favorit keluarga yang terkenal dengan kuahnya yang enak dan gurih. Opor ayam merupakan salah satu hidangan yang sering muncul dalam momentum lebaran atau hari raya dan acara-acara spesial lainnya. Akan tetapi dalam keseharian, menu opor ayam juga tidak mesti ditiadakan dalam daftar menu makan mingguan atau bulanan. Hal ini dikarenakan terdapat aneka macam cara membuat opor ayam sehingga bisa menjadi variasi hidangan untuk menambah spesial menu makan rumahan sehari-hari.
Bahan dan Bumbu :
½ kg daging ayam, potong-potong
1 gelas (200cc) santan
1 gelas air
1 lembar daun salam
2 batang serai, digeprek
garam, gula dan penyedap sesuai selera
1 sdm minyak untuk menumis
Haluskan :
3 butir bawang merah
2 siung bawang putih
5 butir kemiri, goreng
1 sdt ketumbar
½ sdt pala
3 cm lengkuas
2 cm kunyit
3 cm jahe
CARA MEMASAK OPOR AYAM ENAK DAN SEDERHANA :
Daging ayam dibersihkan lalu rebus sebentar, sisihkan.
Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan santan dan air lalu aduk. Beri garam, gula dan penyedap secukupnya lalu masukkan daun salam dan serai.
Masukkan daging ayam yang sudah direbus, aduk lalu masak hingga ayam matang dan empuk. Angkat dan sajikan.

ASKEB IBU HAMIL

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Kematian dan kesakitan pada ibu hamil dan bersalin serta bagi bayi baru lahir sejak lama menjadi masalah, khususnya di Negara-negara berkembang. Sekitar 25-50% kematian perempuan usia subur disebabkan oleh hal yang berkaitan dengan kehamilan (Bari, 2005).

Laporan Badan Statistik tahun 2007 bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi dari negara berkembang. Kematian ibu diakibatkan oleh komplikasi kehamilan yang terdiri dari komplikasi obstetri baik secara langsung dan tidak langsung. Komplikasi obstetri langsung meliputi perdarahan, pre eklamsi, infeksi, emboli air ketuban, kelainan letak dan ketuban pecah dini. Komplikasi langsung merupakan penyebab seringnya kematian ibu. Komplikasi obstetri tidak langsung meliputi penyakit yang timbul selama kehamilan, persalinan dan nifas (Kominfo, 2007).

Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa komplikasi penyebab kematian ibu 25% disebabkan karena perdarahan, 14% aborsi yang tidak aman, 7% karena persalinan yang lama, 20% terjadi pada masa kehamilan karena anemia, defisiensi zat besi, penyakit malaria, penyakit jantung bahkan infeksi akibat HIV/AIDS. Menurut Azrul (2005), penyebab kematian ibu sebenarnya tidak terlalu istimewa, artinya dapat diatasi dengan mudah melalui pendekatan teknologi karena berkaitan erat dengan kondisi kehamilan dan pertolongan persalinan yang aman.

Pada dasarnya kehamilan merupakan proses yang fisiologis dan alamiah. Namun ada juga kehamilan yang bermasalah dengan persalinan dengan penyulit dan berakhir dengan kematian baik bayi maupun ibu. Berdasarkan pola pikir dan pendekatan paradigma sehat maka upaya penyelamatan ibu dan bayi harus dilaksanakan pencegahan komplikasi persalinan secara aktif dengan melalui pemeliharaan ibu hamil sejak hamil muda (Sarwono, 2006).

Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang kehamilan normal sampai saat ini masih kurang dan keadaan ini memaksa kita untuk berusaha memperbaiki keadaan ini. Dan yang penting kita mencegah terjadinya komplikasi pada kehamilan. Peran bidan antara lain sebagai pendidik yaitu memberikan pendidikan/pengetahuan tentang kehamilan salah satunya adalah pentingnya ANC yang teratur. Melalui ANC yang berkualitas diharapkan dapat menurunkan resiko terjadinya komplikasi pada kehamilan (Manuaba, 1998).

Pemeliharaan kahamilan dapat dilakukan oleh ibu hamil  sendiri dengan bantuan ibu PKK, Bidan dan masyarakat untuk menentukan masalah atau faktor resiko ibu hamil, dengan diikuti KIE  agar mereka menjadi tahu, peduli, sepakat dan bergerak jika ada masalah dalam kehamilannya. KIE meliputi persiapan atau perencanaaan tempat bersalin yang aman dan kujungan antenatal. Pendekatan berdasarkan resiko ibu hamil merupakan upaya dalam memberikan pelayanan kepada semua ibu hamil dengan lebih intensif. Sehingga kegawatdaruratan pada ibu dan bayi dapat dicegah (Sarwono, 2006).

Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji asuhan kebidanan pada ibu hamil normal sesuai standar pelayanan yang berlaku dan sesuai dengan wewenang bidan.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis dapat mengidentifikasikan masalah-masalah yang ada. Adapun masalah-masalah tersebut antara lain :

1.         Berdasarkan pola pikir dan paradigma sehat maka penyelamatan jiwa ibu dan bayi harus dilaksanakan pencegahan komplikasi persalinan secara aktif.

2.         Tingginya masalah kegawatdaruratan pada ibu dan bayi semakin meningkatkan angka kematian di Indonesia.

3.         Tingginya angka kematian dan kesakitan akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas masih tinggi.

Dari data di atas dapat diambil rumusan masalah “ Bagaimana asuhan kebidanan yang tepat pada ibu agar angka kematian ibu akibat kehamilan dapat menurun ? “

C.    TUJUAN

1.      Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil normal dengan pendekatan manajemen kebidanan didasari konsep, sikap, dan ketrampilan serta berdasarkan evidence base.

2.      Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu :

a.       Melakukan anamnesa ibu hamil

b.      Melakukan pemeriksaan payudara pada ibu hamil

c.       Melakukan pemeriksaan palpasi abdomen

d.      Melakukan pemeriksaan panggul luar pada ibu hamil

e.       Melakukan pemeriksaan DJJ

f.       Melakukan pemeriksaan lab pada ibu hamil

g.      Mengidentifikasikan secara dini kemungkinan komplikasi pada kehamilan normal dan kegawatdaruratan dengan intervensi yang sesuai dan atau melakukan rujukan dengan tepat waktu

h.      Mendokumentasikan hasil pemeriksaan kehamilan dan temuan-temuan yang penting dalam intervensi yang dilakukan.

BAB II

TINJAUAN  TEORI

A.    LANDASAN TEORI MEDIS

1.      Pengertian

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan yaitu triwulan I dimulai sejak konsepsi sampai umur kehamilan 3 bulan, triwulan II dimulai dari bulan keempat sampai umur kehamilan enam bulan dan triwulan III dimulai dari umur kehamilan ketujuh sampai sembilan bulan (Sarwono, 2006).

Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga. Disini keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan kepada ibu hamil. Pada umumnya kekhamilan tumbuh normal dan pada akhirnya bayi lahir sehat cukup bulan melalui jalan lahir bila perawatan dalam masa kehamilannya baik namun terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa akan diketahui masalah pada kehamilan. Ibu hamil sebaiknya di anjurkan untuk sedini mungkin memeriksakan kehamilannya dengan cara mengunjungi tempat pelayanan kesehatan  yang ada atau datang ke tenaga kesehatan (bidan, dokter, dll) yang dekat dengan tempat tinggal ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan (Manuaba, 1998).

2.      Penyebab Terjadinya Kehamilan

Kehamilan terjadi kalau ada pertemuan dan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan sel mani (spermatozoa) pada saat seorang wanita mengalami ovulasi atau masa subur. Berdasarkan Manuaba (1998), prosesnya terjadinya kehamilan adalah sebagai berikut :

Proses permulaan kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari :

a.    Ovulasi

Adalah proses pengeluaran ovum yang dipengaruhi oleh system hormonal yang kompleks. Proses oogenesis adalah:

Oogenia → oosit primer → primary ovarium folikuli → liquor folikuli → pematangan pertama ovum → pematangan kedua ovum pada waktu sperma membuahi ovum.

Ovulasi terjadi karena adanya pengaruh LH yang semakin besar dan fluktuasi yang mendadak, karena adanya gerak aktif tuba yang berumbai. Ovum yang dilepaskan akan segera ditangkap oleh tuba (Manuaba, 1998).

b.    Terjadi Migrasi Sperma dan Ovum

Proses pembentukan spermatozoa (spermatogenesis) adalah:

Spermatogonium membelah jadi dua → spermatosit I membelah → spermatosit II membelah → spermatid tmbuh menjadi sperma.

Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya beberapa ratus yang dapat mencapai tuba fallopi. Spermatozoa yang masuk ke daalm alat genetalia dapat hidup selama 3 hari (Manuaba, 1998).

c.    Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot

Konsepsi adalah pertemuan inti ovum dan inti sperma (Manuaba,1998). Hanya satu sperma yang dapat menembus zona pelusida dan masuk dalam ovum. Setelah itu, zona pelusida mengalami perubahan sehingga tidak dapat dilalui oleh sperma(reaksi block to polyspermae) Proses ini diikuti dengan penyatuan pronuklei yang disebut zigot yang terdiri dari awal genetic dari pria dan wanita. Dalam beberapa jam setelah pembuahan, mulailah pembelahan zigot selama 8 hari menjadi morula. Hasil konsepsi ini tetap digerakkan ke arah rongga rahim oleh gerakan rambut silia. Hasil konsepsi tiba dalam cavum uteri pada tingkat blastula (Sarwono, 2006).

d.   Nidasi

Adalah tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Bila nidasi telah terjadi, mulailah differensiasi sel blast, sel-sel kecil yang terletak dengan ruang eksoceulum membentuk ectoderm dan yolk salc. Sedangkan sel yang besar membentuk endoderm dan ruang amnion. Dalam perangkat nidasi, trofoblast dihasilkan hormone HCG. Nidasi terjai di bagian fundus uteri dari dinding depan atau belakang. Penanaman dari mudigah mencari tempat yangbanyak nutrisi, pembuluh darah, dan vaskularisasi baik (Sarwono, 2006).

e.    Pembentukan Plasenta

Mukosa rahim wanita yang tidak hamil terdiri dari atas stratum compacta dan spongiosa. Desidua adalah mukosarahim saat hamil, terdiri atas:

1.    Desidua basalis : Letak antara hasi konsepsi dan dinding rahim

2.    Desidua kapsularis : Meliputi hasil konsepsi kearah rahim

3.    Desidua parietalis : Meliputi lapisan dalam dinding rahim (Manuaba, 2007).

f.     Pertumbuhan Mudigah

Pertumbuhan embrio bermula dari lempeng embrional yang seharusnya berdeferensiasi  menjadi tiga unsur lapisan, yaitu : ektodermal, mesodermal, dan endodermal (Manuaba, 1998).

g.    Placenta

Plasenta berbentuk bundar , berukuran 15-20 cm, tebal 2,5-3 cm dan berat 500 gram. Plasenta dihubungkan tali pusat sepanjang 25-50 cm dengan janin. Plasenta sempurna pada minggu ke-16 dimana desidua parietalis dan kapsularis telah menjadi satu. Implantasi plasenta terjadi pada fundus uteri depan dan belakang. Fungsi plasenta, yaitu :

a.    Sistem ekskresi

b.    Sistem respirasi

c.    Penyalur antibody

d.   Sebagai sawar terhadap toxic

e.    Menghasilkan hormone dan persiapan laktasi

f.     Sebagai alat untuk menyalurkan nutrisi (Manuaba, 1998)

3.      Fisiologi Pertumbuhan Janin

a.    Pembentukan Darah Janin

Membutuhkan Fe dalam hati , limfa dan sumsum tulang ibu. Pada permulaan, sel janin dibentuk oleh kantong yolksalk sebagai megaloblast. Fetal hemoglobin mempunyai kemampuan untuk mengikat O2 dari ibu dan melepas CO2 ke darah ibu. Menjelang persalinan janin membuat adult hemoglobin sebagai persiapan kelahiran sehingga dapat menghisap O2 dengan pernafasan lebih aktif (Manuaba, 1998).

b.    Pernafasan Janin

Barcrofi memantau gerakan dada sebagai bentuk pernafasan intrauteri tetapi air ketuban tidak masuk ke paru-paru. Gerakan pernafasan dikendalikan oleh saturasi O2, bukan CO2. bila saturasi O2 lebih dari 50% terjadi penghentian pernafasan dan bila kurang maka saturasi CO2 untuk mengendalikan pernafasan (Manuaba, 1998).

c.    Sirkulasi Janin

Ditentukan oleh factor sebagai berikut :

a.       Foramen ovale diantara kedua atrium.

b.      Ductus arteriosus bothali.

c.       Ductus venosus aranti ke hepar.

d.      Pada umbilicus ( 1 vena dan 2 arteri).

Peredaran darah janin berlangsung selama kehidupan intrauteri, dimana plasenta memegang peranan penting. Kegagalan fungsi plasenta dapat menimbulkan berbagai penyulit dalam pertumbuhan dan perkembangan janin (Manuaba, 1998).

d.   Sistem Pencernaan

Terbentuk pada minggu ke-16 secara rutin, janin minum air ketuban sebanyak 450 ml per jam. Hepar berfungsi membentuk darah, metabolisme hemoglobin, bilirubin dan mengubah menjadi biliverdin. Biliverdin disalurakan ke usus sebagai bahan sisa metabolism (Sastrawinata, 1983).

e.    Sistem Perkemihan

Ginjal terbentuk pada usia 12 minggu. Di dalam kandung kemih tidak ada urine yang diekskresikan dalam air kemih rata-rata 0,005-0,1 cc/menit (Manuaba, 1998).

f.     Pertumbuhan Janin dalam Uterus

Berdasarkan Manuaba (1998) pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam uterus dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Umur

Panjang Janin

Pembentukan Organ

4 mg

7,5-10 mm

Rudimental mata, telinga, dan hidung

8 mg

2,5 cm

Hidung, telinga, jari-jemari mulai dibentuk. Kepala menekur ke dada

12 mg

9 cm

Daun telinga lebih jelas, kelopak mata melekat, leher mulai berbentuk, alat kandungan luar terbentuk namun belum berdiferensiasi

16 mg

16-18 cm

Genetalia eksterna terbentuk dan dapat dikenal, kulit tipis dan warna merah

20 mg

25 cm

Kulit lebih tebal, rambut mulai tumbuh di kepala dan rambut halus tumbuh di kulit.

24 mg

30-32 cm

Kedua kelopak mata tumbuh alis dan bulu mata serta kulit keriput. Kepala besar. Bila lahir dapat bernafas tetapi hanya bertahan hidup beberapa jam saja.

28 mg

35 cm

Kulit warna merah ditutupi verniks caseosa. Bila lahir dapat bernafas, menangis pelan dan lemah. Bayi immature

32 mg

40-43 cm

Kulit merah dan keriput. Bila lahir kelihatan seperti orangtua kecil

36 mg

46 cm

Muka berseri tidak keriput. Bayi premature.

40 mg

50-55 cm

Bayi cukup bulan. Kulit licin, verniks caseosa banyak, rambut kepala tumbuh baik, organ-organ baik. Pada pria, testis sudah berada dalam skrotum, sedangkan pada wanita, labia mayora berkembang baik. Tulang-tulang kepala menulang.

Tabel 1. Pertumbuhan Janin Dalam Uterus

4.      Perubahan Fisiologi Wanita Hamil

a.         Sistem Reproduksi

1)      Uterus

Uterus bertambah besar, dari yang beratnya 30 gram menjadi 1000 gram. Dengan ukuran panjang 32 cm, lebar 24 cm dan ukuran muka belakang 22 cm. Pembesaan ini disebabkan oleh hipertrofi dari otot-otot rahim, tetapi pada kehamilan muda terbentuk juga sel-sel otot yang baru.

Dalam bulan-bulan pertama pertumbuhan uterus disebut pertumbuhan aktif, karena memang dinding rahim menjadi tebal disebabkan pengaruh hormone estrogen pada otot-otot rahim (Manuaba, 1998).

Perubahan-perubahan pada uterus, meliputi :

a)      Segmen Bawah Rahim

Meregangnya dinding rahim pada kehamilan 16 minggu karena adanya pertumbuhan dan perkembangan janin menyebabkan OUI semakin tertarik dan menipis, SBR lebih jelas dalam persalinan karena diregang oleh kontraksi dan relaksasi otot rahim (www.wikipedia.org, 2007).
b)      Tanda Piskacek

Pertumbuhan uterus tidak rata, uterus lebih cepat tumbuh di bagian implantasi ovum dan sekitar plasenta (Manuaba, 1998).

c)      Kontraksi Braxton Hicks

Bila rahim dapat diraba dari luar, maka kontraksi ini dapat dirasakan dengan palpasi, kontraksi Braxton hicks tidak terasa sakit dan terjadi bersama di seluruh bagian rahim.

d)     Perubahan pada serviks

Menjadi lebih lunak karena pembuluh darah dalam serviks bertambah dan karena timbulnya oedema dari servik dan hiperplasi kelenjar-kelenjar serviks (Sarwono, 2006)

2)      Vagina dan Vulva

Karena pengaruh esterogen terjadi hipervaskularisasi menyebabkan vagina dan vulva tampak lebih merah dan kebiru-biruan, disebut tanda Chadwick (Manuaba, 1998).

3)      Ovarium

Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum gravidarum sampai terbentuk plasenta pada kehamilan 16 minggu. Lambat laun fungsi korpus luteum digantikan plasenta (Sarwono, 2006).

4)      Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormone saat kehamilan, yaitu esterogen, progesterone, dan somatomammotropin.

Penampakan payudara pada ibu hamil adalah sebagai berikut :

a)      Payudara menjadi lebih besar.

b)      Areola payudara makin hiperpigmentasi-hitam.

c)      Glandula montgomery makin tampak.

d)     Putting susu makin menonjol.

e)      Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin belum berfungsi, karena hambatan dari PIH (Prolaktine Inhibiting Hormone) untuk mengeluarkan ASI.

f)        Setelah persalinan, hambatan prolaktin tidak ada sehingga pembuatan ASI dapat berlangsung (Manuaba, 1998).

b.        Sistem Kardiovaskuler

Peningkatan estrogen dan progesterone menyebabkan perubahan pembuluh darah menjadi lebih lebar.  Serta terjadi peningkatan volume darah sebesar 25-30% dan peningkatan sel darah sebanyak 20% dari jumlah sebelum hamil. Sel darah meningkat sampai 33% tetapi karena peningkatan volume plasma yang lebih besar dari pada eritrosit dalam darah sehingga menyebabkan viskositas darah berkurang yang disebut dengan hemodilusi atau pengenceran darah. Hemodilusi atau pseudonemia dapat menyebabkan anemi fisiologis pada kehamilan (Hamilton, 1995).

c.         Sistem Respirasi

Pada kehamilan terjadi perubahan system respirasi untuk dapat memenuhi kebutuhan O2. disamping itu terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar pada umur hamil 32 minggu. Sebagai kompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2 yang meningkat, ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20 sampai 25 % dari biasanya (Manuaba, 2007).

d.        Sistem Pencernaan (Gastrointestinal)

Karena pengaruh esterogen, pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan :

1)      Pengeluaran air liur yang berlebihan (hipersalivasi).

2)      Daerah lambung terasa panas.

3)      Terjadi mual dan pusing kepala terutama pagi hari, yang disebut morning sickness.

4)      Muntah yang disebut emesis gravidarum.

Progesterone menimbulkan gerak usus makin berkurang dan dapat menyebabkan obstipasi (Manuaba, 1998).

e.         Sistem Urinarius

Karena pengaruh desakan rahim yang membesar pada hamil muda dan turunnya kepala bayi ke dalam panggul pada hamil tua menyebabkan kandung kemih tertekan sehingga terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering kencing. Desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Hal ini mulai timbul pada minggu ke 16 (Manuaba, 1998).

f.          Sistem Integumen (Kulit)

Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophore stimulating hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum livide atau alba, areola mamae, papilla mamae, linea nigra, pipi (cloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang (Manuaba, 1998). Baik kelenjar perspirasi atau kelenjar lemak menjadi lebih aktif selama masa kehamilan. Sebagai akibatnya, wanita hamil mungkin mengalami gangguan bau badan, banyak mengeluarkan keringat dan rambut yang berminyak sehingga sulit merapikannya (Hamilton, 1995).

g.         Sistem Metabolisme

Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan memberikan ASI. Metabolisme basal naik sebesar 15 % sampai 20 % dari semula, terutama pada trimester III (Manuaba, 1998).

Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 kg sampai 16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar 0,5 kg per minggu. Pertambahan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut :

1)      Janin                             3-3,5 kg

2)      Plasenta                                    0,5 kg

3)      Air ketuban                   1 kg

4)      Rahim                           1 kg

5)      Timbunan lemak           1,5 kg

6)      Timbunan protein         2 kg

7)      Retensi air garam          1,5 kg (Manuaba, 1998)

h.        Sistem Muskuluskeletal

1)      Gigi, tulang dan persendian

Selama masa kehamilan wanita membutuhkan kurang lebih sepertiga lebih banyak kalsium dan fosfor. Karies gigi tidak disebabkan oleh dekasifikasi sejak kalsium gigi telah dibentuk. Terdapat bukti bahwa pada saliva yang asam pada saat hamil membantu aktivitas penghancuran bakteri email yang menyebabkan karies.

Postur tubuh wanita secara bertahap akan mengalami perubahan karena janin yang membesar dalam abdomen. Untuk mengkompensasi penambahan berat badan ini, bahu lebih tertarik ke belakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur dan dapat menyebabkan nyeri punggung pada wanita.

Persendian panggul akan lebih longgar karena ligament-ligamen akan melunak. Juga terjadi sedikit pelebaran pada ruang persendian. Apabila jumlah kalsium yang diperlukan janin dari asupan makanan ibu tidak terpenuhi maka kalsium maternal pada tulang-tulang panjang akan diambil sebagai penggantinya (www.stasiunbidan.com, 2008)
2)      Otot

Kram otot tungkai dan kaki merupakan masalah umum selama kehamilan. Penyebabnya belum diketahui, tetapi mungkin berhubungan dengan metabolism kalsium dan fosfor, kurangnya drainase sisa metabolism otot atau postur yang tidak seimbang. Kram kaki biasanya terjadi setelah berdiri sepanjang hari dan pada malam hari setelah tubuh istirahat. Sedikit gerakan dan penggunaan kompres hangat dapat sedikit membantu menghilangkan keluhan tersebut (Hamilton, 1995).

5.       Perubahan Psikologi Wanita Hamil

a.      Respon terhadap kehamilan

Setiap orang mempunyai respon yang berbeda terhadap diagnosa kehamilan. Macam-macam respon terhadap kehamilan :

1)      Ambivalen

Kadang-kadang respon wanita terhadap kehamilan bersifat mendua, bahkan kehamilan yang sudah direncanakan.

2)      Pengakuan

Perasaan yang bercampur aduk atau mendua, biasanya akan berubah dengan semakin majunya kehamilan dan terjadinya adaptasi tubuh terhadap perubahan-perubahan tersebut.

3)      Labilitas emosional

Perasaan gembira yang bergantian dengan perasaan sedih atau kadang-kadang campuran kedua perasaan tersebut (Rahayu, 2009).

b.      Pengaruh kehamilan pada kehidupan sosial

1)   Karier

Prospek karier atau kemajuan wanita dapat dibatasi oleh kehamilan kendati hal ini tergantung pada kondisi wanita itu sendiri.

2)   Aspek financial

Dapat terjadi masalah yang sangat penting jika kehamilan terjadi tanpa terduga dan kalau biaya yang diperlukan untuk kehamilannya bersamaan dengan semua kebutuhan lain.

3)   Hubungan dengan orang lain

Hubungan dengan orang lain akan mengalami perubahan akibat adanya kehamilan.

4)   Ketakutan dan kecemasan

Wanita hamil dan suami terkadang merasa takut, cemas dan berbagai reaksi emosional yang tidak dapat dibagi dengan keluarga dan sahabat (Rahayu, 2009).

c.       Problem psikologis selama kehamilan

Masalah psikologi pada wanita hamil jarang ditemui kecuali pada wanita yang rentan. Kelainan psikologi yang sudah ada sebelum kehamilan dapat membaik atau bertambah parah. Kesinambungan perawatan merupakan faktor yang penting dalam asuhan kebidanan. Penilaian secara obyektif terhadap keadaan psikologis dilakukan di sepanjang kehamilan dan penyimpangan dari sikap dan perilaku sebelumnya perlu dicatat. Bantuan yang sesuai diberikan setelah pasien dirujuk kepada dokter ahli psikiatri ( Ferrer, 2001).

6.      Tanda-tanda Kehamilan

a.    Tanda-tanda presumtif

1)        Amenorea (tidak dapat haid)

      Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de graff dan ovulasi

2)        Mual dan muntah

      Pengaruh esterigen dan progesterone terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan sehingga menimbulkan mual dan muntah terutama pagi hari yang disebut morning sickness.

3)        Mengidam

      Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian disebut mengidam.

4)        Pingsan atau sinkope

      Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan sinkope atau pingsan. Keadaan ini menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu.

5)        Lelah (fatigue)

6)        Tidak ada selera makan (anoreksia)

      Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan, kemudian nafsu makan timbul kembali.

7)        Miksi sering

      Terjadi karena kandung kemih tertekan oleh rahim membesar yang dimulai pada minggu ke 16 masa kehamilan. Gejala ini akan menghilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

8)        Konstipasi/obstipasi

      Terjadi karena tonus otot usus menurun oleh pengaruh hormone steroid.

9)        Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormone kortikosteroid plasenta, dijumpai di muka (cloasma gravidarum), areola payudara, leher, dan dinding perut (linea nigra).

10)    Epulis yaitu hipertrofi dari papil gusi

11)    Pemekaran vena-vena (varices) dapat terjadi pada kaki, betis dan vulva. Biasanya dijumpai pada triwulan akhir (Manuaba, 1998).

b.   Tanda-tanda kemungkinan hamil

1)         Perut membesar sesuai tuanya kehamilan

2)         Pada pemeriksaan dapat dijumpai :

a)      Tanda Hegar

b)      Tanda Chadwicks

c)      Tanda Piscaseck

d)     Kontraksi Braxton Hicks

e)      Teraba ballottement

3)         Pemeriksaan biologis kehamilan positif

     Sebagian kemungkinan positif palsu (Manuaba, 1998).

c.    Tanda pasti (tanda positif)

1)   Gerakan janin dapat dilihat, diraba atau didengar sedangkan bagian-bagian janin dapat diraba atau dipalpasi oleh pemeriksa.

2)   Denyut jantung janin :

a.       Didengar dengan stetoskop-monoral Laennec

b.      Dicatat dan didengar dengan alat Doppler

c.       Dicatat dengan feto-elektro kardiogram

d.      Dilihat pada ultrasonografi

3)   Terlihat tulang-tulang janin dalam foto-rontgen (Manuaba, 1998).

Diagnosis
Diagnosis dibuat untuk menentukan hal-hal kehamilan normal yang mempunyai tanda-tanda positif sebagai berikut (Sarwono, 2006) :

a.         Perubahan warna pada serviks

b.         Warna areola lebih gelap dan terjadi pembesaran payudara

c.         Pembesaran abdomen

d.        Detak jantung janin (jika terdengar lebih dari 20 minggu)

e.         Ukuran uterus sama/sesuai umur kehamilan

f.          Pemeriksaan fisik dan laboratorium normal

Pemeriksaan dan Pengawasan kehamilan
a.    Tujuan

Tujuan umum pemeriksaan dan pengawasan ibu hamil adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

                 Tujuan  khusus adalah :

1)   Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas.

2)   Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin.

3)   Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.

4)   Memberikan nasehat-nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas, dan laktasi (Manuaba, 1998).

b.   Jadwal pemeriksaan kehamilan

1)        Pemeriksaan pertama segera setelah diketahui terlambat haid

Pemeriksaan ulang :

a)      Setiap bulan sampai umur 0-27 minggu

b)      Setiap 2 minggu sampai umur 28-36 minggu

c)      Setiap 1 minggu sejak umur 37-42 minggu

2)        Pemeriksaan khusus dilakukan bila terdapat keluhan tertentu (www.bidankita.com, 2009).
c.    Pemeriksaan ibu hamil

1)        Anamnesa

a)        Anamnesa identitas istri dan suami : nama, umur, agama, pekerjaan, alamat, dan sebagainya.

b)        Anamnesa umum :

1.    Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi, defekasi, perkawinan, dan sebagainya.

2.    Tentang haid, kapan mendapat haid terakhir (HT). bila hari pertama haid terakhir diketahui, maka dapat dijabarkan taksiran tanggal persalinan memakai rumus Naegele : hari +7, bulan -3, dan tahun +1.

3.    Tentang kehamilan, persalinan, keguguran, dan kehamilan ektopik atau kehamilan mola sebelumnya.

2)        Inspeksi dan pemeriksaan fisik diagnostic

Pemeriksaan seluruh tubuh secara baik dan legeartis : tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan jantung, paru-paru, dan sebagainya.

3)        Perkusi

Menggunakan alat untuk mengetahui reflek patella

4)        Palpasi

Ibu hamil disuruh berbaring terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksa berdiri disebelah kanan ibu hamil. Dengan sikap hormat lakukanlah palpasi bimanual terutama pada pemeriksaan perut dan payudara.

Palpasi perut untuk menentukan :

a.    Besar dan konsistensi rahim.

b.   Bagian-bagian janin, letak, presentasi.

c.    Gerakan janin dan penurunan presentasi ke panggul.

d.   Kontraksi rahim Braxton Hicks dan his (Manuaba, 1998)

Cara melakukan palpasi menurut Leopold terdiri atas 4 bagian yaitu :

a.   Leopold I

1)      Kedua telapak tangan pada fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus uteri sehingga perkiraan umur kehamilan dapat disesuaikan dengan tanggal haid terakhir.

DAFTAR PENGUKURAN TFU (Manuaba, 1998)

Akhir bulan

Besar uterus

Tinggi fundus uteri

1

Lebih besar dari biasa

Belum teraba (palpasi)

2

Telur bebek

Di belakang simfisis

3

Telur angsa

1-2 jari di atas simfisis

4

Kepala bayi

Pertengahan simfisis-pusat

5

Kepala dewasa

2-3 jari di bawah pusat

6

Kepala dewasa

Kira-kira setinggi pusat

7

Kepala dewasa

2-3 jari diatas pusat

8

Kepala dewasa

Pertengahanpusat-proc.xypoideus

9

Kepala dewasa

3 jari dibawah Px atau sampai setinggi Px

10

Kepala dewasa

Sama dengan kehamilan 8 bulan namun melebar kesamping

2)      Bagian apa yang terletak di fundus uteri. Pada letak membujur sungsang, kepala bulat keras dan melenting pada goyangan. Pada presentasi kepala akan teraba bokong pada fundus: tidak keras, tak melenting dan tidak bulat. Pada letak lintang fundus uteri tidak diisi oleh bagian-bagian janin (Manuaba, 1998).

b.   Leopold II

Kemudian kedua tangan diturunkan menelusuri tepi uterus untuk menetapkan bagian apa yang terletak dibagian samping.

1)        Letak membujur dapat ditetapkan punggung anak, yang teraba rata dengan tulang iga seperti papan cuci.

2)        Pada letak lintang dapat ditetapkan dimana letak kepala janin (Manuaba, 1998).

c.    Leopold III

Menetapkan bagian apa yang terdapat diatas simfisis pubis. Kepala akan teraba bulat dan keras sedangkan bokong teraba tidak keras dan tidak bulat. Pada letak lintang simfisis pubis akan kosong. Satu tangan berada di bagian simpisis dan menggoyang pelan untuk mengetahui presentasi sudah masuk panggul atau belum (Manuaba, 1998).

d.   Leopold IV

Pada pemeriksaan Leopold IV, kaki klien lurus, pemeriksa mengahadap ke kaki klien untuk menetapkan bagian terendah janin yang masuk ke pintu atas panggul. Bila bagian terendah masuk PAP telah melampaui lingkaran terbesarnya maka tangan yang melakukan pemeriksaan divergen, sedangkan bila lingkran terbesarnya belum masuk PAP maka tangan pemeriksa konvergen (Manuaba, 1998).

Pemeriksaan pembantu Leopold adalah sebagai berikut :

1.   Pemeriksaan Budin

Dipergunakan pada letak membujur, untuk lebih menetapkan dimana punggung janin berada.Tehnik :fundus uteri didorong kebawah, badan janin akan melengkung sehingga punggung mudah ditetapkan (Manuaba, 1998).

2.   Pemeriksaan menurut Ahlfeld

Janin dengan letak membujur didorong ke salah satu sisi sehingga janin mengisi ruangan yang lebih terbatas. Dengan mendorong janin kesatu arah, maka pemeriksaan punggung janin lebih mudah dilakukan (Manuaba, 1998).

3.   Pemeriksaan menurut Kneble

Pemeriksaan ini dapat membantu pemeriksaan Leopold III (Manuaba, 1998).

5)        Auskultasi

Setelah punggung janin dapat ditetapkan, diikuti dengan pemeriksaan denyut jantung janin dengan menggunakan stetoskop monoral.

a.    Kaki ibu hamil diluruskan sehingga punggung janin lebih dekat dengan dinding perut ibu.

b.   Punctum maximum denyut jantung janin ditetapkan disekitar scapula.

c.    Denyut jantung janin dihitung dengan cara menghitung 5 detik pertama, interval 5 detik dilanjutkan menghitung untuk 5 detik kedua, interval 5 detik dilanjutkan menghitung untuk 5 detik ketiga. Jumlah perhitungan selama 3 kali setiap 5 detik dikalikan 4, sehingga denyut jantung janin selama satu menit dapat ditetapkan. Jumlah denyut jantung janin normal antara 120-160 denyut per menit (Sarwono, 2006)

d.   Nasehat untuk Ibu Hamil

1.      Diet Ibu Hamil

                 Pada dasarnya dianjurkan makanan empat sehat lima sempurna. Karena kebutuhan akan protein dan bahan makanan tinggi, dianjurkan tambahan sebuah telur sehari. Nilai gizi dapat ditentukan dengan bertambahnya berat badan sekitar 6,5 sampai 15 kilogram selama hamil. Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang perlu mendapat perhatian khusus karena kemungkinan terjadi penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari 0,5 kilogram per minggu (Manuaba, 1998)

2.      Pekerjaan Rumah Tangga

                 Pekerjaan rutin dapat dilaksanakan. Bekerja sesuai dengan kemampuan dan tidak menimbulkan kelelahan pada ibu (Manuaba, 1998)

3.      Hubungan Seksual

                 Hamil bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual disarankan untuk dihentikan bila :

a.    Terdapat tanda infeksi dengan pengeluaran cairan disertai rasa nyeri atau panas.

b.   Terjadi perdarahan saat hubungan seksual.

c.    Terdapat pengeluaran cairan(air) yang mendadak.

d.   Hentikan hubungan seksual pada mereka yang sering mengalami gugur kandung, persalinan sebelum waktunya, mengalami kematian dalam kandungan, sekitar 2 minggu menjelang persalinan (Manuaba, 1998).

4.      Olahraga Saat Hamil

                 Olaharaga yang dianjurkan adalah jalan-jalan pada pagi hari untuk ketenangan dan mendapat udara segar, selain itu sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik, dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang.

5.      Pakaian Hamil

                 Pakaian hamil yang dianjurkan adalah pakaian yang longgar dan terbuat dari katun sehingga mempunyai kemampuan menyerap, terutama pakaian dalam. BH dianjurkan longgar dan dapat menyangga payudara.

6.      Pemeliharaan Payudara

                 Putting susu penting diperhatikan agar tetap bersih. Jika puting terbenam tarik dengan spuit yang dipotong (Neeple) . Dua bulan terakhir dilakukan massage, kolostrum dikeluarkan untuk mencegah penyumbatan.

7.      Pengawasan Gigi

                 Saat hamil sering terjadi caries yang berkaitan dengan emesis-hiperemesis gravidarum, hipersalivasi dapat menimbulkan timbunan kalsium disekitar gigi. Memeriksakan gigi saat hamil diperlukan untuk mencari kerusakan gigi yang dapat menjadi sumber infeksi. Perawatannya dengan gosok gigi minimal 2x sehari.

8.      Hygiene Umum dalam Kehamilan

     Kebersihan badan mengurangi kemungkinan terkena infeksi, karena badan yang kotor banyak mengandung mikroorganisme atau kuman. Pemeliharaan buah dada juga penting, misalnya puting susu harus dibersihkan atau dibasahi dengan colostrum. Mandi 2x sehari, ganti baju dalam minimal 2x sehari dan keramas bisa lebih sering karena lebih banyak berkeringat (Sastrawinata, 1983).

9.      Jadwal Istirahat dan Tidur

                 Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik, karena istirahat dan tidur dan teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin.

10.  Pemberian Obat-obatan

                 Pengobatan penyakit saat hamil harus selalu memperhatikan apakah obat tersebut tidak berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin.

11.  Merokok, Minum Alkohol dan Kecanduan Narkotik

                 Ketiga kebiasaaan ini secara langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dan menimbulkan kelahiran dengan berat badan rendah bahkan dapat menimbulkan cacat bawaan atau kelainan pertumbuhan dan perkembangan mental.

12.  Keadaan Darurat Pada Kehamilan

                 Keadaan darurat saat hamil yang mengharuskan ibu hamil untuk memeriksakan diri adalah :

a.     Berkaitan dengan janin

1)                Badan panas disertai tanda infeksi lainnya.

2)                Gerak janin terasa berkurang atau menghilang.

3)                Perut terasa semakin kecil.

b.    Berkaitan dengan keadaan ibu

1)                Mual muntah berlebihan

2)               Terjadi pengeluaran abnormal: cairan mendadak, lender apalagi bercampur darah, perdarahan.

3)               Tanda subyektif gestosis: sakit kepala, pemandangan kabur, nyeri pada epigastrium/ulu hati, pembengkakan tangan, muka, kelopak mata dan kaki, air seni berkurang.

4)                Sakit perut mendadak.

5)               Terjadi tanda-tanda inpartu: perut sakit disertai pengeluaran lendir darah.

13.  Imunisasi

                 Vaksinasi dengan toksoid tetanus dianjurkan untuk dapat  menurunkan angka kematian bayi karena infeksi tetanus. Vaksinasi toksoid tetanus dilakukan dua kali selama hamil (Manuaba, 1998).

B.     LANDASAN TEORI ASKEB

Proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah memperkenalkan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran tindakan dengan urutan yang logis yang menguntungkan bagi pasien dan tenaga kesehatan.

            Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, pemuan- penemuan, ketrampilan dalam rangkaian  tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang terfokus pada klien. (Varney,  1997 )

Tujuh langkah manajemen kebidanan menurut Varney adalah sebagai berikut:

I.          Pengumpulan data dasar

Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang lengkap dan akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:

a.         Anamnesa

·      biodata

·      riwayat menstruasi

·      riwayat perkawinan

·      riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

·      riwayat KB

·      riwayat kehamilan sekarang

·      riwayat kesehatan

·      biopsikososiospiritual

·      pengetahuan klien

b.        Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda- tanda vital.

c.         Pemeriksaan khusus

·      Inspeksi

·      Palpasi

·      Auskultasi

·      Perkusi

d.        Pemeriksaan penunjang

·      Laboratorium

·      USG

·      Catatan terbaru dan sebelumnya

II.       Interpretasi data dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data- data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan, diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap mambutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa.

III.    Identifikasi diagnosa atau masalah potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan.

IV.    Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera

Pada langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer, periodik, atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selam wanita tersebut bersama tenaga kesehatan terus- menerus. Misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan. Data baru mungkin saja dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengidentifikasikan situasi yang gawat, dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu dan anak (misalnya perdarahan kala III, distosia bahu, atau nilai apgar yang rendah).

V.       Merencanakan asuhan yang menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.

VI.    Melaksanakan perencanaan

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lain lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.

VII. Evaluasi

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagai mana telah diidentifikasi di dalam diagonsa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.

BAB III

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A.    TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA Ny. Y UK 15+2 MINGGU G2P1A0 DENGAN ANEMIA SEDANG di BPS ”X”,’ Y’

KABUPATEN ’Z’

Anamnesa tanggal/jam            : 21 Desember 2009/ 17.00 WIB

Tempat                                    : BPS Bekti Sayekti

I.       PENGKAJIAN

A.    Identitas

Nama               : Ny. Y                                    Nama               : Tn. R

Umur               : 33 tahun                    Umur               : 36 tahun

Agama             : Kristen                      Agama             : Kristen        

Suku/bangsa    : Jawa/Indonesia         Suku/bangsa    : Jawa/Indonesia

Pendidikan      : SMA                                     Pendidikan      : STM

Pekerjaan         : IRT                            Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat                        : Gataksari, Karanganom, Klaten

B.     Data Subyektif

1.      Alasan kunjungan

Ibu ingin memeriksakan kandungannya.

2.      Keluhan utama

Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada kehamilan ini.

3.      Riwayat  menstruasi

a.    Menarche          : 13 tahun.

b.   Siklus                : 28 hari.

Lama               : 6-7 hari.

Karakteristik   :

·         Banyaknya     : ± 90 cc / ganti pembalut 2 kali sehari

·         Teratur/tidak  : teratur

·         Sifat darah     : encer

c.    Disminorhoe     : tidak ada

4.      Riwayat kehamilan ini

a.       HPHT                             : 05 – 09 - 2009

b.      HPL                               : 12 – 06 - 2010

c.       Gerakan janin                 : ada

d.      Keluhan-keluhan            :

·         Trimester I                : Mual muntah

·         Trimester II              : Tidak ada keluhan

e.       Imunisasi TT                  : Belum

f.       Obat yang dikonsumsi   : tablet besi, vitamin C, kalk, Vitamin B12

g.      Kekhawatiran khusus     : tidak ada

5.      ANC

a.      Tempat                                          : di bidan

b.      Banyak                                          : 2  kali kunjungan.

c.      Penyuluhan yang pernah didapat  : belum pernah

d.     Pengetahuan tentang kesehatan    : Ibu belum mengetahui tentang gizi ibu hamil,

Ibu belum mengetahui tentang Tablet Fe secara lengkap.

Ibu belum mengetahui tentang ibu hamil resiko tinggi

6.      Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu

No.

Hamil Ke

Usia Ke

Hamilan

Komp.

Kehamilan

Persalinan

Nifas

Bayi

Partus tahun

Penolong

Jenis

Komplikasi

Laktasi

Komplikasi.

Jns kel

BBL

(gr)

Skrg

1.

2.

Satu

Hamil ini

9 bln

Tidak ada

2004

Bidan

Spontan

Tdk ada

Cukup ,diberikan selama 4 bulan

Tidak ada

Laki

3400

Sehat, umur 5 thn

7.      Riwayat kesehatan pasien

a.       Riwayat kesehatan dahulu

·      Jantung              : tidak ada

·      Asma                 : tidak ada

·      TBC                   : tidak ada

·      DM                    : tidak ada

·      Hipertensi          : tidak ada

·      Epilepsi              : tidak ada

·      Alergi                : tidak ada

b.      Riwayat kesehatan sekarang

·      Jantung              : tidak ada

·      Asma                 : tidak ada

·      TBC                   : tidak ada

·      DM                    : tidak ada

·      Hipertensi          : tidak ada

·      Epilepsi              : tidak ada

·      Alergi                : tidak ada

8.      Riwayat Keluarga Berencana

Pernah menjadi akseptor KB implant

Masalah selama memakai implant : tidak ada

9.      Riwayat kesehatan keluarga

Penyakit keturunan                       : Tidak ada

Penyakit menular serumah            : Tidak ada

Keturunan kembar                                    : Tidak ada

10.  Riwayat perkawinan

                  Kawin                               : 1 kali

Lama kawin                      : 6 tahun

Umur waktu menikah       : 17 tahun

11.  Data kebiasaan sehari-hari

a.       Nutrisi

Sebelum Hamil

Selama Hamil

TM I

TM II

Frekuensi

3 x /hari

1-2 x/hari

2-3x /hari

Porsi

 Nasi 1 piring, Sayur ½ mangkok, Lauk 1 potong, Buah 1 biji

Nasi ½ piring, Sayur ¼ mangkok, Lauk ½ potong, Buah 2 biji

Nasi 1 piring, Sayur ¼ mangkok, Lauk 1 potong, Buah 1 biji

Jenis

Nasi, lauk( tempe,tahu, telur), sayur( sayur bayam,sayur daun singkong), buah( jeruk, pisang)

Nasi, lauk ( Tempe, tahu, ikan), sayur(sayuranhijau), buah (pepaya, jeruk)

Nasi, lauk (tempe,tahu), sayur(sayuran hijau), buah(apel, jeruk, pepaya)

Minum

8-9 gelas

8-9 gelas

8-9 gelas

Pantangan

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

·      Keluhan                       : tidak ada

·      Konsumsi suplemen    : tablet Fe, Kalk, Vit C, Vit B complek

·      Minum jamu                : tidak

·      Merokok                      : tidak

·      Minum alkohol            : tidak

b.      Eliminasi

Kegiatan eliminasi

Sebelum hamil

Selama hamil

Frekuensi BAK

Keluhan

3-4 kali sehari

Tidak ada

± 5 kali sehari

Tidak ada

Frekuensi BAB

Keluhan

1 kali sehari

Tidak ada

1 hari sekali

Tidak ada

c.       Istirahat

Kegiatan Istirahat

Sebelum hamil

Selama hamil

Istirahat malam

Keluhan

± 5-7 jam

Tidak ada

± 6-8 jam

Tidak ada

Istirahat siang

Keluhan

1 jam

Tidak ada

1-2 jam

Tidak ada

d.      Aktivitas                          : tidak terganggu

Sebelum hamil

Selama hamil

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga

e.       Personal hygiene

Kegiatan

Sebelum hamil

Selama hamil

Mandi

2 kali sehari

2 kali sehari

Keramas

2 kali sehari

3 kali sehari

Sikat gigi

2 kali sehari

2 kali sehari

Ganti pakaian

2 kali sehari

2 kali sehari

f.       Pola seksual

·      Sebelum hamil             : tidak ada keluhan

·      Selama hamil               : tidak ada keluhan

12.  Data psikologis

a.       Respon ibu terhadap kehamilan ini             : senang

b.      Kehamilan ini direncanakan atau tidak       : direncanakan

c.       Jenis kelamin yang diharapkan                   : laki-laki / perempuan sama saja

d.      Kekhawatiran                                              : tidak ada

13.  Data psikososial

a.       Respon suami/keluarga terhadap kehamilan ini   : senang

b.      Rencana melahirkan                                             : di bidan

c.       Rencana menyusui                                               : ada, ASI eksklusif selama 6 bulan

14.  Data sosial

a.       Budaya                                                    :tidak ada yang mengganggu kesehatan

b.      Hubungan dengan keluarga/lingkungan : baik

15.  Data spiritual

Ibu rajin beribadah

C.     Data Obyektif

1.      Status generalis

a.       Keadaan umum           : baik, kesadaran : compos mentis

b.      Vital sign                     : TD : 110/80 mmHg   N : 80 x/menit

                                      R   : 24 x/menit         S : 371°C

c.       BB sekarang                : 55 kg, BB sebelum hamil : 50 kg

d.      TB                               : 157 cm

e.       LILA                           : 24 cm

2.      Seluruh tubuh

a.       Kepala

·         Bentuk                  : mesochepal

·         Rambut                 : bersih, tidak mudah rontok

·         Muka                     : tidak oedema, agak pucat, simetris, tidak  terdapat kloasma

·         Mata                      : simetris, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterus

·         Hidung                  : bersih, tidak ada polip

·         Mulut                    : tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, epulis tanpa perdarahan

b.      Leher

·         Kelenjar tiroid              : tidak ada pembesaran

·         Kelenjar getah bening  : tidak ada pembesaran

c.       Dada

·         Jantung                         : tidak diperiksa

·         Paru-paru                      : tidak diperiksa

·         Mammae

-          Pembesaran     : ada

-          Simetris           : ya

-          Areola             : hiperpigmentasi

-          Putting susu    : menonjol dan bersih

-          Kolostrum       : belum keluar

·         Aksila

-          Benjolan          : tidak ada

-          Nyeri               : tidak ada

d.      Ekstremitas atas dan bawah

·         Varises                                          : tidak ada

·         Oedema                                         : tidak ada

·         Refleks patella ka/ki          : tidak diperiksa karena tidak ada sarana

·         Betis merah/lembek/keras : tidak ada

3.      Pemeriksaan khusus obstetri

a.       Abdomen

1)      Inspeksi

a)      Pembesaran perut        :  membesar sesuai dengan umur kehamilan

b)      Bentuk perut               : bulat memanjang

c)      Linea alba/nigra           : linea nigra

d)     Striae albican/livida     : albican

e)      Bekas luka operasi      : tidak ada

f)       Gerakan janin              : belum ada

2)      Palpasi

a)      Mc Donald                        : 13  cm

b)      TFU                                   : pertengahan pusat dan simpisis

c)      Balotemen                         : positif (+)

3)      Auskultasi

DJJ: belum terdengar

b.      Pemeriksaan panggul

Kesan panggul : normal karena sudah pernah melahirkan spontan dengan berat bayi lahir (BBL) normal, yaitu 3400 gram.

c.       Genitalia eksterna

1)      Vulva vagina

a)      Varises                              : tidak ada

b)      Oedem                              : tidak ada

c)      Luka                                  : tidak ada

d)     Kemerahan                        : tidak

e)      Nyeri                                 : tidak

f)       Pengeluaran pervaginam   : tidak ada

2)      Perineum

Bekas luka                                : tidak ada

3)      Anus

Hemoroid                                 : tidak ada

4.      Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Hb                :  9,6 gr %

II.    INTERPRETASI DATA

Diagnosa Kebidanan
Seorang ibu 33 tahun, G2P1A0, hamil  15+2 minggu, janin tunggal hidup, intrauterine

Dasar   :

·         Subyektif :

-          Ibu menyatakan ini adalah kehamilan yang kedua dan belum pernah abortus.

-          HPHT : 05 – 09 -2009

·         Obyektif :

Pemeriksaan Leopold :

TFU: pertengahan pusat simpisis, balotemen positif

Masalah
Tidak ada

Kebutuhan
KIE tentang Gizi ibu hamil

KIE tablet Fe pada ibu hamil

KIE resiko tinggi pada kehamilan

III. DIAGNOSA POTENSIAL

Tidak ada

IV. INTERVENSI / TINDAKAN SEGERA

Tidak ada

V.    RENCANA TINDAKAN

Tanggal 21 Desember 2009,         Jam: 13.00 WIB

a.       Beri KIE tentang tablet Fe

b.      Beri KIE tentang Gizi ibu hamil

c.       Beri KIE tentang Resiko Tinggi dalam Kehamilan.

d.      Beritahu ibu waktu kunjungan ulang berikutnya 4 minggu lagi

e.       Beri suplemen sesuai kebutuhan

VI.  PELAKSANAAN

Tanggal 25 Desember 2009          Jam: 17.15.00 WIB

a.       Memberi KIE tentang manfaat dan bahan makanan yang mengandung Fe

b.      Memberi KIE tentang manfaat dan bahan makanan yang mengandung gizi sesuai kebutuhan ibu hamil

c.       Memberitahu ibu waktu kunjungan ulang berikutnya 4 minggu lagi

d.      Memberi suplemen      :

1.      SF              500 mg            1 x 1 per hari

2.      Kalk          500 mg            1 x 1 per hari

3.      Vit.C         500 mg            1 x 1 per hari

VII. EVALUASI

Tanggal 25 Desember  2009        Jam: 17.25 WIB

a.    Ibu dapat menyebutkan kembali manfaat tablet Fe pada masa kehamilan

b.   Ibu dapat mengulang kembali bahan makanan yang mengandung gizi sesuai kebutuhan ibu hamil

c.       Ibu sudah tahu waktu kunjungan ulang berikutnya 4 minggu lagi.

d.      Ibu sudah mendapatkan suplemen sesuai kebutuhan.

B.        PEMBAHASAN

Manajemen kebidanan yang digunakan pada Ny. Y adalah menejemen kebidanan menurut Varney, 1997, yaitu suatu proses pemecahan yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penelitian-penelitian, ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien. Pada bab ini penulis akan membahas tentang kasus yang diuraikan yang berisi tentang kesenjangan antara teori dan kasus yang dikelola :

1.         Pada pemeriksaan fisik terhadap Ny. Y, terutama pada pemeriksaan reflek patela tidak bisa dilakukan karena tidak tersedianya alat.

2.         Pada Ny. Y tidak dilakukan pemeriksaan panggul karena ibu pernah melahirkan secara spontan dengan berat badan lahir (BBL) bayi normal, yaitu 3400 gram.

3.         Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan kadar Hb pada Ny. Y, didapat hasil pemeriksaan Hb 9,6 gr % sehingga Ny. Y mengalami anemia ringan. Menurut WHO kejadian anemia pada kehamilan berkisar antara 20 % - 89 % dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Volume darah bertambah banyak, plasma maupun eritrositnya. Tetapi penambahan volume plasmanya yang disebabkan oleh hydremia lebih menonjol sehingga biasanya kadar Hb turun secara fisiologis (www.bidankita.com , 2009). Selain itu penurunan kadar Hb pada Ny. D disebabkan karena kualitas dan kuantitas nutrisi ibu yang kurang terutama dalam mengkonsumsi susu.
4.         Pada Ny. Y pola kebiasaan sehari-hari terjadi perbedaan yang tidak mengarah pada masalah. Pada TM II ini ibu mengalami peningkatan frekuaensi miksi. Hal ini sesuai dengan teori, terjadi karena kandung kemih tertekan oleh rahim membesar yang dimulai pada minggu ke 16 masa kehamilan. Gejala ini akan menghilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin (Manuaba, 1998). Selain itu peningkatan terjadi juga pada frekuensi keramas yang disebabkan karena kelenjar perspirasi atau kelenjar lemak menjadi lebih aktif selama masa kehamilan. Sebagai akibatnya, wanita hamil mungkin mengalami gangguan seperti banyak mengeluarkan keringat dan rambut yang berminyak (Hamilton, 1995).

5.         Pada Ny. Y tidak ditemukan diagnosa potensial karena tidak ada masalah yang mengarah kepada kegawatdaruratan. Menurut Varney (2004) mengidentifikasikan diagnosa potensial berdasarkan diagnosa dan masalah yang sudah dididentifikasikan dan mengantisipasi penanganannya.

6.         Pada Ny. Y tidak diperlukan tindakan segera karena tidak ditegakkanya diagnosa potensial. Menurut Varney (2004) adalah mengidentifikasikan perlukah tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani dengan anggota team kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.

7.         Susunan rencana asuhan yang diberikan pada Ny. Y sesuai dengan kebutuhan ibu. Menurut Varney (2004), rencana tindakan adalah merupakan kerangka pedoman untuk mengantisipasi terhadap masalah yang mungkin terjadi selanjutnya dan sesuai dengan kebutuhan ibu hamil.

8.         Pelaksanaan rencana asuhan pada Ny. Y sesuai dengan perencanaan tindakan yang sesuai kebutuhan. Menurut Varney (2004), pelaksanaan adalah pelaksanaan rencana asuhan secara menyeluruh, efisien dan aman.

9.         Pelaksanaan rencana pada Ny. Y tidak semua tindakan dapat terlaksana karena terbatasnya waktu yang tersedia pada saat pemberian KIE. Hasil dari pelaksanaan rencana asuhan pada Ny. Y belum sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan belum memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasikan dalam diagnosa dan masalah. Menurut Varney (2004), evaluasi adalah penilaian terhadap langkah pelaksanaan asuhan kebidanan yang telah tercapai dan dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan apakah benar-benar telah memenuhi sebagaimana diidentifikasikan di dalam diagnosa dan masalah.

BAB IV

PENUTUP

A.       KESIMPULAN

1.      Tidak semua keluhan ringan selama kehamilan Trimester II dirasakan oleh setiap ibu hamil

2.      Pemeriksaan kehamilan harus dilaksanakan secara rutin untuk memantau kesehatan ibu dan janin khususnya pada Ny. Y lebih diutamakan stabilitas tekanan darah dan Hb nya.

3.      Untuk mengimbangi terjadinya peningkatan metabolisme selama kehamilan diperlukan masukan nutrisi yang cukup pada ibu hamil.

4.      Untuk menegakkan diagnosa diperlukan pengkajian yang lengkap.

5.      Dalam menyusun rencana tindakan harus sesuai dengan kebutuhan pasien berdasarkan hasil pengkajian

6.      Pelaksanaan tindakan harus sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dan memperhatikan respon pasien

7.      Dalam melakukan evaluasi harus mengacu pada tujuan yang akan dicapai.

B.        SARAN

1.      Untuk bidan

Agar melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengkajian data pasien, khususnya untuk pemeriksaan reflek patela.

2.      Untuk pasien

Agar memperhatikan gizi atau masukan nutrisi yang dibutuhkan ibu hamil terutama dalam mengkonsumsi susu

DAFTAR PUSTAKA

Ferrer, Hellen. 2001. Perawatan maternitas Edisi 2. EGC : Jakarta

Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC : Jakarta

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri I. EGC : Jakarta

Pusdiknakes WHO, JHPIEGO. 2000. Asuhan Kebidanan Antenatal Panduan Pengajaran Asuhan kebidanan Fisiologi bagi Dosen Diploma III. Kebidanan Buku II : Jakarta

Saifudin, Abdul Bari, dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka SarwononPrawirohardjo : Jakarta

Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. EGC : Jakarta

Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Kebidanan I. EGC

ASKEB NIFAS


ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NORMAL

NY. S UMUR 35 TAHUN P4A0 8 JAM POST PARTUM

 A. Konsep Teori Nifas

1.    Pengertian

a.         Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).

b.        Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).

c.         Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998:134).

2.    Tujuan Perawatan Masa Nifas

Dalam masa nifas ini penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah sakit.

Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah:

a.         Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologi.

b.        Melaksanakan skrining yang komprehrnsif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.

c.         Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan bayi sehat.

d.        Untuk mendapatkan kesehatan emosi. (Bari Abdul,2000:121)

3.    Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

a.         Mendukung dan memantau kesehatan fisik ibu dan bayi

b.        Mendukung dan memantau kesehatan psikologis, emosi, sosial serta memberikan semangat pada ibu

c.         Membantu ibu dalam menyusui bayinya

d.        Membangun kepercayaan diri ibu dalam peranya sebagai ibu

e.         Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga

f.         Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan

g.        Memberikan konseling pada ibu dan keluarganya mengenai tanda bahaya masa nifas, makan dengan gizi seimbang dan selalu menjaga kebersihan

h.        Memberikan asuhan secara profesional

4.    Kebijakan Program Pemerintah dalam Asuhan Masa Nifas

Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Kunjungan dalan masa nifas antara lain :

a.    Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)

1)        Mencegah perdarahan masa nifas

2)        Mendeteksi dan merawat penyebab perdaarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut

3)        Pemberian ASI awal, 1 jam setelah Inisiasi Menyusu Dini (IMD) berhasil dilakukan

4)        Melakukan hubungan antara ibu dan bayi

5)        Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.

b.    Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)

1)        Memastikan involusi uteri berjalan normal uterus berkontraksi fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal dan tidak ada bau menyengat

2)        Menilai adanya tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal

3)        Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda penyulit dalam menyusui

4)        Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi yaitu perawatan tali pusat, menjaga bayi agar tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

c.    Kunjungan 3 (2 minggu setelah persalinan)

1)        Memastikan involusi uteri berjalan normal uterus berkontraksi fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnoral, tidak ada bau menyengat.

2)        Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.

3)        Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.

4)        Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda penyulit.

5)        Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, menjaga bayi agar tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

d.   Kunjungan 4 (6 minggu setelah persalinan)

1)        Menanyakan pada ibu tentang keluhan dan penyulit yang di alaminya

2)        Memberikan konseling untuk menggunakan KB secara dini.

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NORMAL

NY.S UMUR 35 TAHUN P4A0 8 JAM POST PARTUM

DI BPM NY.RIYANTI ACHWAN Amd.Keb

BUGEN BANGETAYU SEMARANG

Tempat Praktek   : BPM Riyanti Amd.Keb

Nama Mahasiswa    :    Lina Fathma

I.              PENGKAJIAN

A.     Data Subyektif

Identitas/ Biodata

Nomor RM                       : B. 790

Nama Ibu                         : Ny.S                   Nama Suami             : Tn.T

Umur                                : 35 tahun              Umur                       : 37 tahun

Pendidikan                       : SD                      Pendidikan              : SMP

Pekerjaan/ Penghasilan     : IRT                     Pekerjaan                 : Swasta

Suku/ Bangsa                   : jawa/Indonesia     Suku/Bangsa          : jawa/Indonesia

Agama                              : islam                   Agama                     : islam

Alamat                              : Sembung Harjo Rt 03 Rw 05 Genuk SEMARANG

Anamnesa pada tanggal 07 Juli 2014   pukul 09.00 wib

1.        Keluhan Utama/alasan datang: ibu mengatakan masih merasa mules pada perutnya

2.        Riwayat Kehamilan dan Persalinan saat ini:

a.        Para : 4          A :0       Hidup : 4

b.       Usia kehamilan             : 39 minggu

c.        Kelainan selama hamil : Tidak ada

d.       Tanggal persalinan       : 07-07-2014                      Jam :  01.00 wib

e.        Jenis Persalinan             : spontan

f.        Lama Persalinan             :  Kala I      :  07 jam

      Kala II    :            30 menit

      Kala III   :            15 menit

      Kala IV   :  02 jam

                                                                                                         +
                                                               09 jam 45 menit

h.       Penyulit dalam persalinan : tidak ada

i.         Anak : hidup,     BB : 2900 gram  PB : 51 cm     LK : 33 cm      LD: 32 cm

j.         Kelainan bawaan            : tidak ada

3.        Rawat Gabung : ya

       Alasan         : Ibu ingin dekat dengan bayinya

4.        Riwayat menstruasi :

a.        Menarche  :  13 tahun                    Siklus       :      ± 28 hari

b.       Lama        :  ± 7 hari                       Jumlah      :      2-3 kali ganti pembalut

c.         Warna      :  merah                         Keluhan   :      tidak ada

5.        Riwayat Perkawinan :

a.        Umur waktu nikah         :  21 tahun

b.       Lama                              :  15 tahun

c.        Perkawinan ke                :  1

d.       Jumlah anak                    :  4

6.        Riwayat Kesehatan :

a.        Riwayat kesehatan sekarang

Ibu menyatakan tidak sedang menderita penyakit menular (hepatitis, TBC, HIV/AIDS) menahun (ginjal, jantung) menurun (asma, deabetes). Ibu tidak sedang menjalani pengobatan apapun.

b.       Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu menyatakan tidak perna menderita penyakit menular (hepatitis, TBC, HIV/AIDS) menahun (ginjal, jantung) menurun (asma, deabetes). Ibu tidak sedang menjalani pengobatan apapun.

c.        Riwayat kesehatan keluarga

Ibu menyatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular (hepatitis, TBC, HIV/AIDS) menahun (ginjal, jantung) menurun (asma, deabetes). Ibu tidak sedang menjalani pengobatan apapun.

7.         Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu :

Hamil Ke

Penyulit/

komplikasi

Tgl Lahir Anak

Jenis Kelamin Anak

Jenis Persalinan

Penyulit / komplikasi

Penolong

BB lahir

Keadaan Anak

Nifas

1

Tidak ada

25-03-2001



Spontan

Tidak ada

Bidan

2600 gr

Sehat

Normal

2

Tidak ada

01-06-2005



Spontan

Tidak ada

Bidan

3200 gr

Sehat

Normal

3

Tidak ada

15-04-2009



Spontan

Tidak ada

Bidan

3000 gr

Sehat

Normal

4

Hamil ini

8.        Riwayat KB :

Jenis

Lama penggunaan

Keluhan

Alasan berhenti

DAHULU   ; Suntik 3 bulan

RENCANA ;  MOW

2 tahun

Tidak ada

-

Hamil

-

9.        Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari :

Kebutuhan

Frekuensi

Keluhan

Nutrisi :

§  Makan

§  Minum

1 piring dengan porsi sedang : nasi + sayur +lauk + buah

Ibu sudah minum  ± 2 gelas : air putih

-

-

Eliminasi :

§  BAK

§  BAB

Ibu sudah BAK 2X, warna jernih

Ibu belum BAB

-

-

Istirahat

Ibu sudah tidur selama 1 jam

-

Aktifitas

Ibu sudah menggendong bayinya, sudah dudukan dan sudah mampu berjalan ke kamar mandi sendiri.

-

Personal Hygiene

Ibu sudah mandi, gosok gigi , ganti celana dalam dan pembalut

-

Rekreasi

Ibu belum rekreasi

-

Pola seksual

Ibu belum melakukan hubungan seksual

-

10.    Riwayat Psikologis :

a.        Tanggapan ibu atas kelahiran bayinya :

Ibu merasa senang dengan kelahiran bayinya.

b.       Tanggapan keluarga atas kelahiran bayinya :

Suami dan keluarga merasa senang dengan kelahiran bayi.

c.        Rencana ibu menyusui bayinya : ( ya/ tidak ? sampai kapan?).

Ya. Ibu akan menyusui bayinya sampai umur 6 bulan.

11.    Data Sosial – Budaya :

a.        Hewan peliharaan  :   Ibu menyataka tidak memiliki hewan peliharaan.

b.       Lingkungan            : Ibu menyatakan lingkungannya mendukung, bersih, nyaman dan tidak kumuh.

c.        Adat istiadat          :  Ibu mengatakan tidak terpengaruh dengan adat istiadat setempat dan tidak ada pantangan makan.

d.       Hubungan dengan suami dan/keluarga : Ibu menyatakan hubungannya harmonis, baik, tinggal brtsama suami dan anaknya.

12.    Data Spiritual : Ibu mengatakan menganut agama islam dan taat menjalankan shalat 5 waktu bersama keluarga

13.    Pengetahuan Ibu :

a.        Tentang masa nifas :    Ibu mengatakan nengetahui tentang masa nifas yaitu 40 hari setelah persalinan terjadi dan biasanya masih mengeluarkan darah

b.       Tentang menyusui/ makanan bayi :

1)       Manfaat ASI : Ibu mengetahui manfaat ASI karena ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi , mudah dicerna,memberi perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk diminum.

2)       Perawatan payudara : Ibu mengetahui perawatan payuda seperti menjaga payudara agar tetap bersih dan kering, menggunakan BH yang menyokong payuda, apabila putting susu lecet  oleskan ASI yang keluar pada sekitar putting setiap kali selsai menyusui.

3)       Makanan bayi : Ibu menyatakan akan memberikan ASI sampai 6 bulan karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi.

c.        Tentang perawatan bayi :  Ibu menyatakan dapat memandikan bayinya , tahu bagaimana merawat tali pusat bayi agar tidak terjadi infeksi

d.       Tentang alat KB : Ibu menyatakan mengetahui sebagian macam – macam KB dan akan menggunakan alat kontra sepsi MOW

B.      Data Obyektif

1.        Pemeriksaan umum

a.        Keadaan Umum     :  baik

b.       Kesadaran              :  composmentis

c.        Status emosional   :  stabil

d.       Tanda vital        

1)       Tensi                :  120/80 mmHg        

2)       Nadi                :  82x/ menit

3)       RR                   :  22x / menit

4)       Suhu                :  36,5ºC

e.        Status present

1)      Kepala : mesochepal

a)       Rambut :  distribusi merata, hitam, bersih tidak ada ketombe.

b)       Muka        :           tidak oedema, tidak pucat.

c)       Mata     :   conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.

d)      Hidung     :  bersih, tidak ada secret, tidak ada polip.

e)       Telinga  :  bersih, tidak ada serumen, simetris, tidak ada OMA/OMP

2)      Mulut        :  bersih tidak ada stomatitis, tidak ada caries dentis, tidak ada labio palatoskisis.

3)      Leher        :  tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, limfe, vena jugularis.

4)      Dada         :  simetris tidsk ada retraksi , pernafasan normal.

5)       Mammae   :  puting tidak mendelep, simetris, tidak ada benjolan abnormal.

6)       Perut         :  tidak ada pembesaran hati dan lien, tidak ada bekas operasi

7)       Pinggang  : tidak ada nyeri tekan di daerah hepar.

8)       Genetalia  :  tidak oedema , tidak varises, condiloma akuminata.

9)       Ekstremitas

a)      Atas      :   tidak oedem, tidak sianosis, jari – jari lengkap, kuku tidak pucat, tugor kulit baik, tidak varises

b)      Bawah :  tidak varises pada lipatan paha, jari kaki lengkap, kuku tidak pucat, tugor kulit baik, tidak oedem,

2.       Pemeriksaan Obstetri

a.        Wajah/muka          :  tidak ada kloasma gravidarum

b.       Mammae               :          

1)       Bentuk            : simetris

2)       Putting            : verted (menonjol)

3)       Pengeluaran    : colustrum dan ASI

4)       Pembengkakan : tidak ada

c.        Abdomen              :    

1)      Tinggi fundus uteri          : 2 jari dibawah pusat

2)      Kontraksi uterus                          : baik, keras

3)      Posisi uterus                     : normal

4)      Palpasi kandung kemih  :  kosong

d.       Pengeluaran per vaginam  :

1)      Warna lochea                    : merah                    Jenis : rubra

2)      Banyaknya                        : ± 500 cc

3)      Bau                                   : khas, tidak berbau busuk

e.        Perineum dan anus :

1)      Luka episiotomi/ jahitan :  tidak ada

2)      Keadaan luka                    :  tidak ada

3)      Tanda radang                    :  tidak ada

4)      Keadaan vulva                  : baik, tidak oedema

5)      Anus                                 : tidak ada hemoroid

f.        Obat-obatan yang didapat :

Amoxicillin 500 mg 3X1

Asam mefenamat 500 mg 3X1

Vitamin A 200.000 Unit 1X1

3.       Pemeriksaan Laboratorium  :

   Tidak dilakukan.

II.           INTERPRETASI DATA

Ny. S P4 A0 umur 35 tahun, 8 jam post partum dengan nifas normal

Dasar :

DS       :

a.       Ibu menyatakan bernama Ny. S umur 35 tahun.

b.      Ibu menyatakan telah melahirkan 4 kali, tidak pernah keguguran.

c.       Ibu menyatakan melahirkan 8 jam yang lalu pada tanggal 07 juli 2014

d.      Ibu menyatakan masih merasa mules pada perutnya.

DO       :

a.         Ku : baik

b.         Kesadaran : composmenthis

c.         Tensi : 120/80 mmHg

d.        Nadi : 82x/ menit

e.         RR : 22x / menit

f.          Suhu : 36,5ºC

g.         Kontraksi uterus : baik

h.         TFU : 2 jari dibawah pusat

i.           Lochea : rubra

III.        IDENTIFIKASI MASALAH/ DIAGNOSA POTENSIAL

                   -

IV.        IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA

                   -

V.           PERENCANAAN

1.      Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan

2.      Anjurkan ibu untuk tetap menjaga pola makan dengan gizi seimbang dan cukup istirahat

3.      Anjurkan ibu untuk sesering mungkin menyusui bayinyaa dengan memberikan ASI ekslusif

4.      Anjurkan ibu menjaga kebersihan tubuhnya dan daerah sekitar vagina

5.      Anjurkan ibu untuk tidak berpantang makanan

6.      Mengajarkan pada ibu cara merawat tali pusat

7.      Mengajarkan pada ibu dan keluarga cara memassase abdomen ibu

8.      Menjelaskan pada ibu bahwa rasa mules yang dialami ibu adalah hal yang wajar atau normal

9.      Menganjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang atau kontrol 3 hari lagi

VI.        IMPLEMENTASI

1.             memberitahu ibu bahwa kondisinya dalam keadaan baik

a.       Ku        : baik

b.      TD       : 120/80 mmHg

c.       N          : 82 x /menit

d.      RR       : 22 x /menit

e.       S          : 36,5°C

f.       TFU     : 2 jari di bawah pusat

g.      PPV     : 150 cc

h.      Lochea : rubra

2.             menganjurkan ibu untuk tetap menjaga pola makan dengan gizi seimbang dan cukup istirahat agar cepat pulih

3.             menganjurkan ibu untuk sesering mungkin menyusui bayinya dari kedua payudaranya secara bergantian dengan memberikan ASI ekslusif agar tidak terjadi bendungan ASI

4.             menganjurkan ibu menjaga kebersihan tubuhnya yaitu mandi 2x sekali , ganti pakaian dan celana dalam dan menjaga kebersihan daerah vaginanya dengan cara cebok dengan air bersih dari arah depan ke belakang agar mencegah terjadinya infeksi

5.             menganjurkan ibu untuk tidak pantang makanan agar asupan nutrisi ibu terpenuhi

6.             Menganjurkan pada ibu cara merawat tali pusat yaitu dengan sering menggantinya menggunakan kassa steril setelah bayinya dimandikan

7.             Mengajarkan pada ibu dan keluarga cara memassase abdomen ibu yaitu dengan memijat perut bagian bawah dengan memutar – mutar searah dengan jarum jam

8.             Menjelaskan pada ibu bahwa mules yang dialaminya adalah hal yang wajar karena terjadi pengembalian uterus ke bentuk semula.

9.             Menganjurkan pada ibu untuk kontrol ulang 3 hari kemudian atau sewatku – waktu jika ada keluhan

VII.     EVALUASI

1.    Ibu tampak senang mengetahui bahwa dirinya dalam keadaan baik.

2.    Ibu bersedia untuk menjaga pola makan dengan gizi seimbang dan cukup istirahat.

3.    Ibu bersedia sesering mungkin menyusui bayinya dan memberikan ASI ekslusif pada bayinya.

4.    Ibu bersedia dan mengerti bahwa harus tetap mengaja kebersihan badan dan daerah sekitar vagina.

5.    Ibu bersedia untuk tidak pantang makanan.

6.    Ibu bersedia dan mengerti cara merawat tali pusat.

7.    Ibu dan keluaga mengerti cara memassase.

8.    Ibu mengerti tentang wajarnya rasa mules yang dialaminya.

9. Ibu bersedia untuk kontrol 3 hari kemudian atau sewaktu – waktu jika terdapat keluhan.

Http://lien-far.Blogspot.com
04 JUNI 2015 PUKUL 16.52